Senin, 25 Februari 2013

Kain Tenun Songket



Kain Tenun Songket



Masyarakat Indonesia pada umumnya tentu mengenal kain tenun asal Sumatra yang disebut songket. Berdasarkan asal-muasal namanya, songket berasal dari kata tusuk dan cukit yang disingkat menjadi suk-kit. Dalam perkembangannya kemudian suk-kit itu kemudian banyak dilafalkan sebagai sungkit yang kemudian berubah menjadi songket.

Sejarah Kain Tenun Songket

Sulit dicari asal-usul kapan Kain Tenun Songket  pertama kali dibuat, untuk apa, dan di mana. Bisa jadi Kain Tenun Songket  ini dibuat pertama kali di kerajaan Sriwijaya, mengingat bahwa kerajaan ini merupakan pintu masuk budaya yang beragam dan perdagangan dari berbagai negara. Namun, kalau dilihat lebih seksama dari motif yang ada, unsur-unsur yang mendominasi dalam Kain Tenun Songket adalah unsur budaya China dan India.

Motif dan Corak Kain Tenun Songket

Penampilannya yang gemerlap dengan benang emas, dan kainnya yang halus karena berbahan dasar sutra, menjadikan Kain Tenun Songket  sejak dulunya merupakan kain “milik” para bangsawan, sebagai salah satu lambang status kekayaan mereka. Konon ketika itu, setiap kelompok bangsawan memiliki corak motif masing-masing, untuk membedakannya dari kelompok yang lain.
Lama kelamaan,Kain Tenun Songket pun menjadi pakaian yang wajib dikenakan pada saat upacara adat atau upacara resmi lainnya. Ketentuan adat itu terus bertahan hingga kini. Dalam upacara perkawinan, misalnya, mengenakan kain songket menjadi keharusan dalam tradisi sebagian masyarakat Melayu.
Industri Kain Tenun Songket biasanya dilakukan dalam skala-skala rumah tangga, misalnya seperti yang dilakukan oleh perajin Silungkang, di Padang. Pembuatan songket biasanya membutuhkan waktu berminggu-minggu. Bahkan ada yang sampai enam bulan. Tergantung tehnik yang dipakai.
Bahan baku
Pada masa dahulu, penyiapan bahan baku tenun seperti benang dan pewarnaannya dikerjakan dengan bahan-bahan yang diambil dari alam. Dahulu untuk mendapatkan warna merah biasanya dengan menggunakan kayu sepang yang diambil inti kayunya kemudian dicampur dengan akar mengkudu dan setelah itu direbus bersamaan dengan benang yang ingin diwarnai. Warna biru didapat dari indigo, warna kuning dari kunyit, dan warna-warna sekunder seperti hijau, ungu, dan oranye biasanya dilakukan pencampuran cat dari warna merah, biru, dan kuning. Dan untuk membuat warna agar tidak mudah luntur, pada waktu pencelupan biasanya diberi tambahan tawas.
Namun sekarang bahan-bahan itu sudah tergantikan dengan bahan-bahan buatan pabrik. Untuk benang biasa, kebanyakan para perajin saat ini menggunakan katon atau sutra, bisa juga campuran keduanya, sebagai dasar utama songket. Tapi untuk hasil yang paling bagus biasanya para perajin menggunakan sutra, untuk memperolah kain yang lebih lentur biasanya. Sedangkan benang emas yang menjadi motifnya biasanya menggunakan katon yang dicelup dengan cairan emas, yang biasanya memiliki kadar delapan karat.
Ada beberapa tipe benang emas yang biasanya digunakan dalam pembuatan songket. Pertama, benang emas jantung. Yaitu benang emas yang umurnya sudah tua dan tidak diproduksi lagi. Untuk mendapatkan benang emas ini biasanya para perajin mengambilnya dari kain songket yang telah kuno, kemudian ditenun kembali. Keunggulan benang emas ini adalah sifatnya yang tidak mudah luntur. Dan daya tahannya memang sangat lama, bahkan bisa sampai satu abad lebih. Kedua, benang emas bangko yang berwarna emas keperak-perakan dan bermanik-manik seperti mutiara. Ketiga, adalah benang sartibi. Warnanya emas agak keputih-putihan dan lebih halus. Dan benang yang digunakan masyarakat melayu kebanyakan adalah benang mamilon. Warnanya keemasan dengan tekstur agak kasar.
Motif-motif
Motif yang digunakan para perajin dari masa ke masa sepertinya tidak mengalami perubahan begitu banyak. Hal ini dikarenakan pada proses pembuatan songket itu sendiri. Karena rumitnya, untuk mengembangkan motifpun menjadi begit sulit. Motif hias songket biasanya berbentuk geometris atau hasil stilisasi dari flora dan fauna, yang masing-masing mempunyai arti perlambangan yang baik. Misalnya bunga cengkeh, bunga tanjung, bunga melati dan bunga mawar yang wangi yang melambangkan kesucian, keanggunan, rezeki dan segala kebaikan.
Motif benang emas yang rapat dan mendominasi permukaan kain disebut songket tepus, sedangkan yang motif emasnya tersebar disebut songket tawur. Pada tepi kain biasa dibuat motif tumpal, segitiga atau segi tiga terputus, yang disebut motif pucuk rebung. Tunas rebung yang tumbuh menjadi batang bambu yang kuat dan lentur, tidak tumbang diterpa angin ini melambangkan harapan yang baik terhadap kualitas Kain Tenun Songket .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar